Astaga! SULUT Darurat Tindak Pidana Perdagangan Orang. Tujuh Puluh Enam Orang Sudah Jadi Korban

Manado, Kabarprima.com – Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandow, mengajak masyrakat Sulut memerangi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Mari kita perangi bersama, saya harap masyarakat jangan mudah diiming-imingi,” kata dia, Rabu (4/10/2023).

Steven Kandouw menuturkan, tindakan preventif akan dibarengi dengan penindakan hukum.

Ia berharap pelaku atau otak dari TPPO dapat ditangkap.

“Pelakunya harus ditangkap,” ungkap Steven.

Wakil Gubernur SULUT ini bersyukur, karena aparat kepolisian sangat cepat menangani TPPO.

Nasib para korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), judi online asal SULUT sungguh tragis.

Mereka bekerja keras di bawah ancaman.

Walaupunpun untung dan nyaman, itu berarti menupu bangsa sendiri.

Seperti pengalaman S.

Wanita berusia 30 tahun itu awalnya bekerja sebagai staf di salah satu rumah sakit di Manado.

Kemudian datang tawaran menggiurkan dari Kamboja yang langsung disambarnya.

“Ada tawaran dari teman saya, gajinya lumayan 800 US$ saat training. Biaya keberangkatan juga dibayar perusahaan,” katanya beberapa waktu lalu.

S membayangkan dirinya sebagai staf perusahaan emas yang bonafid.

Setiba di Kamboja, ia mendapati kenyataan tak seindah janji.

Ternyata perusahaan mereka tak bonafid.

Ada indikasi perusahaan itu menggunakan nama perusahaan bonafid di Kamboja pada web lamaran untuk memikat calon pekerja.

Pekerjaan yang ditawarkan ternyata bukan staf profesional.

“Tapi kita disuruh menipu orang Indonesia,” katanya.

Gajinya tak sesuai kesepakatan.

Dijanjikan 800 US$, nyatanya mereka hanya dapat 500 US$.

Bahkan kerap gaji dipotong.

Selain itu, ancaman sering diperoleh.

Menurutnya, banyak masyarakat SULUT yang berada di sana.

“Ada ratusan, 70% dari Sulawesi Utara,” katanya.

Sebanyak 76 masyarakat jadi korban.

Mereka menjalani pekerjaan sebagai scamer atau tukang tipu online di segitiga emas yang meliputi Kamboja, Myanmar, dan Laos.

Ini menjadikan SULUT sebagai peringkat dua provinsi di Indonesia dengan kerawanan TPPO-online.

Menariknya, korban TPPO judi online tidak berasal dari kalangan miskin.

Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga berada dengan latar pendidikan tinggi.

“Ini yang miris, para korban berasal dari keluarga mampu dan berada tapi bisa tergiur gaji berlipat, karena tidak ada impuls control,” kata Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri, Kemenko Polhukam, Rina P Soemarno, pada Rapat Koordinasi (Rakor) Perlindungan WNI di Luar Negeri, Rabu (4/10/2023) di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulut.

Ia menuturkan, pola TPPO berbeda.

Dulunya TPPO disalurkan ke negara Timur Tengah untuk jadi pekerja informal.

Mereka kebanyakan ibu-ibu.

“Kini korban TPPO adalah pemuda, mereka berpendidikan tinggi, melek teknologi,” kata dia.

Ungkap dia, korban direkrut melalui media sosial.

Mereka diiming-imingi gaji besar dan pekerjaan mudah.

Berita Pilihan

Berita Terbaru

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMG_3438

Video

Video

Netizen

Populer