Siswa Di Manado, Belajar Dipasar Bersehati Sambil Mengendong Adiknya.

Manado, Kabarprima.com – Pendidikan di Negeri ini belumlah merata, banyak anak-anak  yang ekonominya kelas bawah belum sepenuhnya mendapatkan pendidikan yang layak, padahal mereka punya hak yang sama untuk belajar. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab sudah tertuang dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Juga UU Nomor 13 Tahun 2011 tentang penanganan fakir miskin.

Berdasarkan pantauan Kabarprima.com, anak-anak miskin yang berada di Pasar Bersehati Manado, Sulawesi Utara, sedang berjuang  mendapatkan pendidikan, mesti bukan lewat pendidikan formal. Anak-anak tersebut di berikan pendidikan gratis oleh Komunitas Dinding Manado, yang melakukan pembelajaran di lantai tiga Pasar Bersehati.

Di sini, puluhan anak – anak yang umumnya anak pedagang kecil diajarkan untuk belajar, membaca, menulis, menggambar, hingga pendidikan karakter dan lingkungan. Di tengah segala keterbatasan yang ada, pembelajaran berlangsung dengan riang gembira. 

Perjuangan anak – anak kurang mampu ini sungguh tak mudah. Mereka yang setiap hari membantu orang tua mereka di pasar, harus mengorbankan banyak hal agar bisa belajar. Seperti dialami salah satu bocah bernama Aini. Bocah perempuan berusia 12 tahun ini punya tugas berat. Ia mesti jualan plastik untuk membantu orang tuanya, juga menjaga adiknya Alif yang masih berusia 10 bulan. 

Alif ia gendong saat jualan plastik keliling di pasar Bersehati. Aini tak pernah melewatkan kesempatan belajar bersama komunitas dinding. Adiknya yang bernama Alif pun ia bawa ke sana. Aini terlihat menggendong Alif menuju sebuah kelas di tengah ruangan. Aini duduk dan menyimak pelajaran tentang lingkungan hidup, sambil tetap memegang Alif.

Seorang relawan dari Komunitas Dinding kemudian memeluk Alif adiknya Sehingga Aini sedikit leluasa dan ia manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar. Ia menyimak, membaca, menulis sambil sesekali menjeling ke arah relawan yang bergantian memeluk adiknya. Alif mengenakan baju biru dan celana pendek dengan menggunakan Pampers. Bayi ini tampak sehat. Dia tak rewel, ramah pelukan, seolah memahami hasrat kakaknya untuk belajar.

Kepada Awak media Aini menuturkan, dirinya bekerja sambil menjaga adiknya. “Ayah kerja di lautan dan ibu juga bekerja,” kata dia.Aini nekat belajar karena ia punya mimpi.”Saya punya cita cita jadi orang sukses,” katanya. Selain itu, Victor Ohoiwutun, salah satu relawan Komunitas Dinding mengatakan, para anak anak ini umumnya bekerja di pasar untuk membantu orang tua mereka “Ada yang jualan pagi agar siangnya bisa kesini, ada yang sampai membawa barang dagangannya kesini,” kata Victor..

Semangat yang luar biasa untuk belajar ditunjukkan oleh anak-anak tersebut. “Kami mengajari mereka dan mereka menguatkan kami,” katanya. Meikel Pontolondo selaku Ketua Komunitas Dinding Manado menuturkan ada 40 anak yang belajar di Komunitas dinding. “Awalnya sekitar 80 persen anak putus sekolah.Tapi kami arahkan dan fasilitasi mereka untuk kembali sekolah dan syukurlah saat ini yang masih tidak bersekolah tersisa 11 siswa,” katanya. Dia mengatakan masalah 11 anak ini umumnya administrasi. Pihaknya berupaya keras agar masalah ini dapat teratasi.

Berita Pilihan

Berita Terbaru

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMG_3438

Video

Video

Netizen

Populer